Persamaan Antara Akidah Salaf dan Khalaf [3/3]


Mengapa Shaykh al-Qardhawi Menguatkan Pendapat Ulama Salaf ?

Shaykh al-Qaradhawi berpendapat dengan menguatkan pendapat ulama salaf, dan dukungan ini tentu saja tidak keluar dari hawa nafsunya, juga tidak sejalan dengan gelombang yang telah menjadikan sebagian ulama berusaha untuk tidak memasukinya. Adapun dukungan terhadap pendapat itu, kerana beberapa hal berikut:

Pertama ; Akal manusia sangat terbatas untuk mengetahui selok-belok tentang sifat Allah, seperti halnya terbatas untuk mengetahui tentang Dzat Allah swt. Mustahil apabila manusia mengetahui selok-belok pencipta-Nya. Keterbatasan itu melingkupi makhluk yang lemah dan fana terhadap Pencipta yang mutlak, sempurna, dan bersifat azali.

Kedua ; Kita tidak merasa aman, jika kita melakukan takwil, lalu kita memalingkan nash-nash itu secara mutlak dari makna zahirnya kepada makna yang kita ketahui dengan akal kita, sekali pun hal itu lebih sesuai dengan sifat Allah swt, atau yang mensifati sifat Allah yang tidak pernah disifati oleh Allah swt kepada diri-Nya dan menafikan dari-Nya sifat yang tidak pernah dinafikan-Nya.

Jika begitu, kita termasuk orang yang mengatakan kepada Allah sesuatu, yang kita tidak mengetahuinya.

Ketiga ; Para ulama salaf takut membuka pintu takwil, kerana dikhawatirkan akan menjadi senjata bagi ahli zindiq dan orang yang ingkar serta musuh-musuh Islam untuk masuk dan merusak Islam dari dalam, seperti aliran kebatinan yang berfalsafah, para sufi yang menyimpang, dan kelompok yang berlebihan.

Sehingga hal ini akan memberikan dukungan untuk memalingkan ayat-ayat Al-Qur’an dari dilalah dan maknanya secara lahir.

Keempat ; Pendapat ulama salaf lebih benar menurut ijma’ para ulama, kerana pendapatnya menetapkan sifat yang ditetapkan oleh Allah dan menafikan sifat yang dinafikannya dalam kitab dan sunnah Rasul-Nya, dengan benar-benar menafikan selok-belok dan penyerupaan-Nya dengan lainnya.

“ Tiada sesuatupun yang serupa dengan Dia.” (QS. Asy-Syura:42)

Kelima ; Pendapat para ulama salaf dapat diterima dan disepakati oleh semua pihak, dan yang lebih utama dalam masaalah akidah dan dasar-dasar Islam. Kerana itu, umat Islam hendaknya berpegang teguh kepada ajaran yang benar dan disepakati, ia lebih berhati-hati, lebih kuat dilalahnya, dan lebih melindungi agamanya.

Keenam ; Kita mendapatkan ulama besar yang melakukan takwil terhadap sifat Allah dan mendukung pendapat para ulama khalaf, pada akhir usianya mereka kembali ke pangkuan salaf dan mendukung pendapat mereka. [1]

Sebagaimana Shaykh al-Qaradhawi juga berpendapat tentang masaalah ayat sifat agar tidak dikumpulkan di satu tempat seperti yang dilakukan sebahagian orang, sehingga dia mengira bahwa Allah SWT adalah satu individu yang memiliki anggota badan.

Shaykh al-Qaradhawi berkata, “ Hakikatnya adalah sifat Allah ini dipaparkan sebagaimana yang dinyatakan daam kitab Allah SWT dan Sunnah Rasulullah saw. Maksudnya, sifat-sifat itu disebutkan sendiri dan tidak dikumpulkan. Kerana setiap muslim akan mengimani sifat-sifat itu dan menetapkannya sebagaimana dinyatakan oleh Allah SWT.”

Tidak semua yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah dikumpulkan menjadi satu, sehingga menimbulkan gambaran yang tidak sesuai dengan kesempurnaan Allah swt.

Sebagian dari mereka berkata, “ Orang mukmin harus beriman kepada Allah, bahwa dia memiliki wajah, kedua tangan, mata, jari-jari, dan lengan, dan seterusnya.”

Penyebutan sifat Allah seperti ini dapat menimbulkan persepsi bahwa Allah swt terdiri dari susunan tubuh dan memiliki tubuh beserta anggota badan.

Al-Qur’an dan Hadits tidak pernah memaparkan gambar seperti ini, dan Rasulullah saw juga tidak pernah mensyaratkan kepada sesiapa pun yang memeluk Islam untuk beriman kepada Allah dengan teliti ini.

Dalam kehidupan para sahabat dan tabi’in, mereka juga tidak pernah mengajarkan akidah kepada umat Islam dengan mengumpulkan semua sifat ini, sebagaimana hal itu terdapat dalam sebagian buku yang membahas tentang masaalah tersebut. [2]

Wallahu Musta’an.

Rujukan

[1] Fusul fi Al-Aqidah Baina As-Salafwa Al-Khalaf, hlm. 132 dan setelahnya dengan sedikit perubahan ungkapan.

[2] Al-Ikhwan Al-Muslimun 70 ‘Aman, hlm. 343.

(Sumber: Metode Dakwah Yusuf Al-Qardhawi/Syaikh Akram Kassab).

kredit kepada Abu Ariffin. Penulis hanya menukar beberapa istilah ke dalam bahasa Melayu supaya mudah difahami.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s