Persamaan Antara Akidah Salaf dan Khalaf [2/3]


Jadi apa kesimpulan dari sikap terhadap masalah ini yang selalu menjadi perdebatan berpanjangan, bahkan juga pertikaian, dan alasan untuk melakukan pembunuhan ?

Shaykh Al-Qaradhawi melanjutkan pandangannya:

Pertama; Nash-nash yang menyebutkan sifat Allah juga ada pada diri manusia, seperti sifat penyayang, ridha, marah, mencintai, membenci, gembira, cemburu, kagum, dan semacamnya. 

Dinyatakan dalam Al-Qur’an sifat yang mulia, kemudian dalam hadits-hadits yang shahih kita temukan sifat-sifat itu semua, sebagaimana Allah juga menetapkannya bagi diri-Nya di dalam kitab-Nya, atau melalui lisan rasul-Nya, Muhammad SAW. 

Namun, kita semua merasa tenang dan tidak mentakwilkannya, kerana hal itu tidak diperlukan. Sebab ia sudah jelas dan pasti maknanya. Inilah pendapat para ulama salaf.

Kedua; Nash-nash yang menyatakan bahwa Allah swt berada diatas dan ketinggian, kita menetapkannya sebagaimana Allah swt menetapkannya bagi diri-Nya dalam banyak nash-nash Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw. 

Semua nash-nash ini kita tetapkan sesuai dengan dalil dan apa yang disifatkan oleh Allah swt. Tetapi kita menafsirkan penetapan ini dengan apa yang ditafsirkan para peneliti metod lama salaf dan bukan yang difahami oleh orang yang berpedoman pada makna lahirnya dan sebagian ulama Madzhab Hanbali yang bersikap berlebihan.

Ketiga; Nash-nash yang lahirnya memberikan isyarat bahwa Allah swt memiliki susunan dan bentuk tubuh, seperti nash-nash yang menetapkan sifat wajah, tangan, kedua tangan, mata, kedua mata, dan semacamnya yang ada pada mahluk sebagai bagian dari angguta tubuhnya. 

Nash-nash ini memperkuat takwilnya, jika takwil itu dekat dan tidak jauh, dapat diterima, dan tidak dibuat-buat, sesuai dengan dialek orang Arab dan bahasa mereka. 

Takwil ini tidak wajib, tetapi lebih diutamakan daripada kita menetapkannya yang berarti telah dikira menetapkan sesuatu yang mustahil bagi Allah swt, juga lebih diutamakan daripada diam, tidak memiliki sikap, dan takwil yang jauh.

Pendapat yang telah kami pilih ini merupakan pendapat yang dipilih oleh para imam yang bersikap sederhana yang juga disetujui oleh majoriti umat Islam, seperti Imam Abu Sulaiman Al-Khathabi, Imam Abu Bakar Al-Baihaqi, Imam Abu Zakaria An-Nawawi, Imam Ibnu Katsir dan al-Hafizh Ibnu hajar, dan lainnya.

Wallahu Musta’an.

Rujukan
(Sumber; kitab Syaikh Akram Kassab ” Metode Dakwah Yusuf Al-Qardhawi”)

Kredit kepada Abu Ariffin . Penulis hanya mengemaskan tulisan beliau supaya lebih mudah dibaca dan difahami oleh pembaca.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s