Pemudatua


Pemudatua

Bayu dingin berhembus teman si langkah sepi,
saat surau kecil itu menangis rindu,
ketika si pancar-sinar bersaksi
dengki, lemas mencari bayang.

Jiwa-jiwa pengabdi,
senyum,
bila aku turut serta, hayati
bersama setia,
seolah aku pucuk baru,
di balik dedaun menguning.

Tika kitab-kusam-kuning dibaca,
melebarkan tinta berwajah
perit, bercempera mewangi,
dan hilang sendiri,
dan pilu itu seakan pergi,
bila lihat aku serta setia,
lalu ajak bersimpuh sama,
biar cepat terasuh dewasa.

Di saat surau kecil menangis,
aku yang bujuknya,
di saat buku mencari kasih,
aku jadi kasihnya,
tapi mengapa bersama
dedaun luruh esok hari,

Akukah pemuda di balik margatua,
Atau ini musafir si pemudatua.

Batu Hitam Di Bawah Si Pancar-Sinar,

Rabat yang berdosa.

Advertisements
By rajawalibiru Posted in Puisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s